Rabu, 13 Maret 2019

Alasan Kenapa Masih Bertahan Dalam Hubungan yang Menyakitkan

Alasan Kenapa Masih Bertahan Dalam Hubungan yang Menyaitkan

Sebuah hubungan asmara memang tak selalu diliputi kebahagiaan. Konflik dan berbagai problematika bisa saja datang menerpa.

Namun, ada juga orang yang 'terjebak' dalam hubungan menyakitkan, dan hanya saling menyakiti kedua belah pihak.

Mempertahankan hubungan yang menyakitkan memang terdengar sia-sia. Tapi, banyak pula orang yang justru melakukannya.

Dengan berbagai alasan tentunya. Banyak dari mereka yang memilih mempertahankan hubungan yang hanya 'meracuni' diri sendiri.

Lalu, mengapa ini semua bisa terjadi?

Para peneliti di University of Utah telah menemukan jawabannya.

Berdasarkan riset yang mereka gelar, terungkap, orang bertahan dalam hubungan 'menyakitkan' biasanya merasa pasangannya terlalu bergantung padanya.

Meninggalkannya, membuat mereka akan dihantui perasaan bersalah.

Penelitian sebelumnya juga menemukan, orang yang bertahan dalam hubungan tidak bahagia adalah orang yang mementingkan diri sendiri.

Mereka adalah orang yang tidak ingin hidup sendiri, atau takut tidak akan menemukan pasangan lain.

Laman the Independent mengutip hasil riset yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology.

Hasil riset menunjukkan, orang yang memiliki pasangan dengan tingkat ketergantungan tinggi, semakin kecil kemungkinan untuk berpisah.

Pada akhirnya, ini membuat mereka tetap mempertahankan hubungannya, meski hubungan tersebut tak lagi mendatangkan kebahagiaan.

Itu dilakukan demi kepentingan pasangan daripada kepentingannya sendiri.

Penelitian ini dilakukan dalam dua studi terpisah. Riset pertama meneliti 1.348 orang dalam hubungan romantis selama periode 10 minggu.

Riset kedua meneliti 500 peserta, yang memiliki rencana berpisah dengan pasangannya, selama dua bulan.

"Ketika orang-orang menganggap pasangan sangat berkomitmen terhadap hubungannya, kecil kemungkinan mereka untuk memulai perpisahan," kata Samantha Joel, selaku pemimpin riset.

Menurut Joel, hal yang sama bahkan dilakukan orang yang tidak benar-benar berkomitmen pada hubungan itu sendiri, atau yang secara pribadi tidak puas dengan hubungan itu.

"Umumnya, kita tidak ingin menyakiti pasangan dan peduli tentang apa yang diinginkannya," ucapnya.

Namun periset mengatakan, kadang-kadang persepsi seseorang tentang kebutuhan pasangannya bisa salah arah, yang dapat merusak validitas hasil riset.

"Bisa jadi orang itu melebih-lebihkan seberapa besar komitmen pasangannya dan betapa menyakitkan perpisahannya," kata dia.

Terlepas dari hal itu, Psikolog Madeleine Mason Roantree, berpendapat, rasa takut hidup sendirian adalah alasan paling umum bagi banyak orang untuk bertahan dalam hubungan yang menyakitkan.

"Orang lain mungkin hanya menyangkal tentang perasaan sesungguhnya pasangan atau keadaan hubungan itu," kata dia.

Alasan lainnya, kata Roantree, meninggalkan hubungan sama halnya dengan kegagalan. Kebanyakan dari mereka merasa malu saat mengakhiri hubungannya.

0 komentar:

Posting Komentar